Mesjid Raya Baiturrahman

Mesjid bersejarah kebanggan rakyat Aceh

Rumoh Aceh

Rumoeh Aceh merupakan Rumah Adat Aceh

Kuwah Pliek

Salah Satu Kuliner Khas Aceh

Tuesday, December 13, 2016

Khanduri Moloed di Aceh

Maulid Nabi, merupakan acara peringatan hari lahirnya Nabi besar Muhammad SAW. Di setiap daerah dengan penduduk muslimnya mayoritas, mungkin mempunyai adatnya sendiri dalam memperingati hari besar islam ini, begitu pula Aceh. Aceh memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW dengan Khanduri moloed (kenduri memperingati maulid Nabi).

Masyarakat Ds. Alue barueh 
Sedang makan bersama di acara Khanduri moloed

Pada saat moloed (maulid), rakyat Aceh pada umumnya merayakan dengan berkenduri dan zikir kitab barzanjii (aceh: Dikee) di menasah- menasah gampoeng. Biasanya, setiap orang yang ingin berkenduri membawa aneka jenis makanan  dan masakan menasah- menasah setempat. Acara Khanduri moloed, memiliki tujuan utama sebagai momen untuk menyantuni anak- anak yatim, santri, fakir miskin, dan silaturrahmi warga sekitar.

Sambil menunggu saat makan bersama tiba, acara ini diiringi oleh shalawat- shalawat dari grup dikee (grup shalawat kitab barzanjii) yang diundang ke tempat moloed.   

Grup dikee Sedang zikir barzanjii
 (foto: bersamaislam.com)

Makan bersama biasanya baru dilakukan ketika gruup dikee telah selesai bershalawat dan dilanjutkan dengan berdo'a bersama dengan seluruh tamu yang hadir. 

Ada beberapa jenis makanan yang dianggap khas saat Khanduri moloed. Biasanya hidangan saat Khanduri moloed berupa Bu Kulah (nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk kerucut) dan Bu Leukat (Nasi ketan). Adapun lauk- pauknya biasanya berupa Kuwah beulangoeng (baca juga), telur bebek asin, gulai ayam atau bebek, daging rendang, dan masih banyak yang lainnya.

Note: 
Sampai saat ini masih ada pro dan kontra masalah perayaan Khanduri moloed. Hal ini dikarenakan adanya kilah pendapat antara yang merayakan dan yang menentang. Penulis di sini hanya menyampaikan dari segi budaya masyarakat Aceh yang begitu semangat dalam memperingati hari Lahirnya Baginda Nabi besar Muhammad SAW. 


Sunday, December 11, 2016

Tari Ranup Lam Puan

Bagi anda yang sering berkunjung saat perayaan- perayaan tertentu di Aceh, nama Tari Ranup Lam puan pasti sudah sangat familiar didengar. Bagaimana tidak, tari ini biasa ditampilkan dalam sesi penyambutan tamu terhormat di suatu acara. 

Tari ranup lam puan
pada acara preeh binto baroe

Tari Ranup Lam puan merupakan tari tradisional suku Aceh. Menurut sejarah sih, tari ini pertama kali diperkenalkan di daerah koeta radja (Banda Aceh) 1959. Yang menciptakan tarian ini merupakan seorang seniman bernama Yusrizal. Jika diterjemahkan menurut bahasa, Tari Ranup Lam puan berarti sirih dalam Puan. Berarti, Tari Ranup Lam puan menggambarkan kebiasaan suku Aceh menyuguhkan sirih kepada tamu. 


Simbol penghormatan kepada tamu menggunakan sirih sudah ada sejak jaman kerajaan. Sebagaimana telah ditulis di situs pemerintah acehprov.go.id, dalam tradisi Jamuan raja-raja di Aceh, seperti Jamuan kepada Sir James Lancastle utusan Raja Inggris James I pada masa  Sultan Alauddin Riayatsyah Saidil Mukammal (1602 M), sirih sudah merupakan suguhan persembahan kepada tamu-tamu agung. Tradisi penyuguhan sirih untuk memuliakan tamu sudah merakyat sejak dari dahulu kala dalam masyarakat Aceh. Berkaitan dengan adat menyuguhkan sirih tersebut, dapat diartikasn sebagai simbol kerendahan hati dan sengaaja memuliakan tamu atau orang lain walaupun dia sendiri adalah seorang yang pemberani dan peramah.

Penari ranup lam puan terdiri dari beberapa orang wanita. para wanita ini menggunakan pakaian tradisional yang sopan. Gerakan dalam tari ini mengandung makna dalam tiap sesinya, seperti merendah di hadapan tamu dan menyuguhkan sirih kepada tamu. Hal ini melambangkan kesopanan, dan memuliakan tamu.

para penari juga membawa beberapa perlengkapan tari yang berupa :
  1. Bate (Puan)
  2. Ranub (Sirih, Pinang, Kapur, Gambir, dan Cengkeh)
  3. Ceuradi (alas puan)
  4. Sange (tutup bate)
  5. Fungsi Ranub:

Fungsi Ranub untuk suguhan kepada tamu (dapat dimakan ) guna menghormati yang menyuguhkannya.

Saturday, December 10, 2016

Kuwah Pliek

Kata "Pliek U" mungkin terdengar aneh atau tidak familiar bagi sebagian orang, terutama bagi orang di luar Aceh. Tapi di Aceh, Pliek U merupakan bahan utama membuat salah satu masakan khas Aceh, yaitu "Kuwah Pliek". Pliek, terbuat dari ampas kelapa. Kelapa busuk yang telah diambil minyaknya dikeringkan dengan dijemur.

Di luar Aceh, jenis masakan ini mungkin masih kalah pamor dibandingkan dengan kuwah beulangong (baca: http://wisatawetaceh.blogspot.co.id/2016/12/kuwah-beulangoeng.html), tapi di Aceh kuwah pliek masih menjadi masakan favorit bagi masyarakat. Masakan kuwah pliek biasanya diolah dengan campuran beberapa jenis sayuran, tapi ada juga masakan kuwah pliek untuk olahan ikan.

Resep olahan kuwah pliek untuk masakan sayuran biasanya terdiri dari:
  1. Buah nangka muda
  2. Buah pepaya muda
  3. Daun melinjo muda dan buah melinjo
  4. Kacang panjang
  5. Daun singkong
  6. Rebung kala
  7. Bahan tambahan, biasanya yang digunakan adalah udang dan Chue (sejenis keong yang hidup di sungai)
Sedangkan untuk bumbunya terdiri dari banyak jenis rempah, antara lain :
  1. Pliek u
  2. Kelapa gonseng
  3. Santan
  4. Bawang merah dan bawang putih
  5. Jahe
  6. Kunyit
  7. Cabai merah, Rawit, dan ijo
  8. Ketumbar
  9. Merica

Masakan kuwah gulee pliek
poto :atjehliterature.blogspot


Selain digunakan sebagai bahan masakan, masyarakat Aceh juga menggunakan Pliek u sebagai bahan pelengkap saat menikmati buah- buahan, terutama buah- buahan muda.

Semoga bermanfaat ya info ringkasnya . . !! bagi yang belom nyobain, dipersilahkan. kalau gak tau harus beli dimana, tinggal liat resepnya di buku resep om google. tpi kalau posisinya di Aceh, tinggal mampir dah di rumah makan- rumah makan yang mnyediain menu ini. salaaammmm . . . .

Thursday, December 8, 2016

Kuwah Beulangoeng

Kali ini saya akan berbagi sedikit info tentang "Kuwah Beulangoeng". Kuwah Beulangoeng merupakan jenis masakan sejenis gulai yang berasal dari Aceh.

Kalou dilihat dari segi bahasa, kuwah beulangong berarti kuwah yang dimasak di belanga atau kuali besar. Masakan khas Aceh ini, diolah dengan berbahan dasar daging. Daging yang biasa digunakan adalah daging kambing, sapi, atau kerbau dengan tambahan sayur. Sayur digunakan dalam memasak kuwah beulangoeng biasanya adalah nangka muda, pisang kepok, atau labu air.

Hidangan kuwah beulangong sebagai menu utama sudah menjadi kebiasaan dalam acara-acara perayaan di Aceh. Seperti acara Syukuran kawinan dan khauri blang (semacam acara do'a bersama setelah musim panen padi). 

Masakan kuwah beulangong, diracik dengan tambahan rempah yang beraneka-ragam. Di Aceh, yang menjadi koki utama masakan ini biasanya kaum pria loh. . He he he. Pada acara perayaan-perayaan, kamu wanita biasanya bertugas menyiapkan sayuran untuk tambahan masakan. 

Ada yang belum pernah nyobain masakan khas Aceh yang satu ini gak ?? Silahkan dicoba deh. Sekarang Anda-anda tidak perlu menunggu acara tertentu untuk menikmati kuliner satu ini. Soalnya saat ini sudah sangat banyak warung-warung dan Rumah makan di Aceh yang khusus menjual "Kuwah Beulangong". Bahkan warung atau rumah makan biasa pun ada yang menyediakan masakan ini sebagai menu pelengkap.

So, ayoo ke Aceh. . 

Gambar saat kami sedang memasak
Kuwah beulangoeng trav


Seorang pemuda sedang 
Membagikan kuwah beulangong pada acara adat




Wednesday, December 7, 2016

Aceh Berduka "Gempa 7 Desember 2016"

Rabu 07 desember 2016, Aceh kembali diguncang gempa bumi berkekuatan 6.5 Skala Richter. Gempa ini terjadi sekitar pukul 05:03 WIB, yang berpusat di Timur laut Kabupaten Pidie Jaya, dengan kedalaman sekitar 10Km, dan tidak berpotensi Tsunami.

Gempa ini mengakibatkan sejumlah bangunan rusak parah. Kerusakan terparah terjadi di sekitaran kota Ulee glee, Mereudu, Tringgadeng, dan luengputu. Bangunan yang rusak meliputi Ruko, Rumah Warga, Rumah ibadah dan beberapa bangunan publik lainnya.

Sampai saat ini, jumlah korban telah mencapai 52 orang meninggal dunia, 73 orang luka berat, dan ratusan lainnya luka ringan. 

Bagi rakyat Aceh, musibah ini seakan menjadi kilas-balik tragedi gempa dan tsunami 2004 silam. Dimana 11 tahun silam, Aceh dilanda tsunami yang juga bertepatan pada bulan desember. 

Info ini kami sampaikan sebagai bahan renungan kita untuk menyadarkan kita atas kelalaian yang kita lakukan. Juga untuk melihat kebesaran Sang Khaliq.

Sisihkan sedikit waktu kita untuk mendo'akan saudara-saudara yang terkena dampak musibah ini. Mereka membutuhkan dukungan kita dari segi moril maupun materil. 



Poto-poto ini diambil dari #gempaAceh

#PrayForAceh #GempaAceh


Tuesday, December 6, 2016

Timphan Aceh

Hallo hallo para pecinta kuliner khas Aceh. . . ! !
Pada artikel kali ini, saya ingin mengulas sedikit tentang salah satu kue khas Aceh. YupzZ. . Timphan.

Timphan Aceh

Bagi masyarakat Aceh, mungkin sudah familiar dengan penganan yang satu ini. Timphan merupakan makanan ringan khas Aceh. Timphan biasanya menjadi salah satu kue utama pada acara-acara penting di Aceh. Timphan biasa dihidangkan pada hari lebaran, syukuran, dan perayaan-perayan hari besar Islam.

Bahan utama pembuatan adonan Timphan biasany adalah tepung ketan dan santan dengan penambahan pisang atau labu tanah. Adonan timphan diisi dengan kelapa parut yang sudah digonseng atau ada juga yang diisi dengan 
srikaya (sejenis selai). Adonan timphan yang sudah dibungkus kemudian dikukus. 

Selain Timphan yang terbuat dari tepung, ada juga beberapa jenis timphan lainnya. Diantaranya :

  1. Timphan ubi. Timphan yang dibuat dengan menambahkan ubi parut pada adonannya dan diisi dengan parutan kelapa gonseng.
  2. Timphan puloet. Merupakan ketan yang dibungkus daun pisang, kemudian dibakar/ panggang.
  3. Timphan brenee (sagu). Merupakan timphan yang dibuat dari tepung sagu, dengan diisi kelapa parut gonseng, dibungkus dengan daun pisang, dan dikukus.

Contoh timphan bernee
Ageutanyo.blogspot

Timphan puloet
Acehdonya.blogspot

Timphan ubi
Mejakoki.com

Gimna ni para petualang kuliner, penasaran pingin nyobain?? Ayo jalan-jalan ke Aceh buwat nyobain kue satu ini. Atau belajar membuat timphan langsung dari mak-mak masterny perakit Timphan. . Hehehe, sekian dulu

Saturday, December 3, 2016

Eungkoet Keumamah (Ikan Kayu)

Keumamah atau ikan kayu (luar Aceh), adalah ikan yang dikeringkan sampai teksturnya mengeras seperti kayu, sehingga bisa bertahan lama atau tidak basi.

Keumamah sebelum diolah

Keumamah merupakan jenis kuliner khas Aceh. Pengeringan ikan keumamah harus melalui beberapa tahap. Mulai dari penjemuran, perebusan, terakhir disalai. Ikan yang biasa digunakan pembuatan keumamah adalah ikan tongkol.

Keumamah merupakan menu andalan bagi para pejuang-pejuang aceh tempo dulu. Hal ini dikarenakan keumamah tahan lama, sehingga para pejuang bisa menyetoknya untuk persediaan selama perang. Di samping itu, masakan Asam Keumamah juga bisa membuat nafsu makan kita meningkat. Maka tidak heran olahan keumamah ini disebut juga "Kuliner Warisan Perang".


Contoh olahan keumamah
(poto: cantik.tempo)


Thursday, December 1, 2016

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh ( Aceh Tsunami Museum), begitulah sebutannya. Jalan- jalan ke kota Banda aceh terasa kurang lengkap sebelum mengunjungi tempat satu ini. 
Museum ini dibangun sebagai sarana edukasi dan sejarah dalam mengenang tsunami di Aceh. Gedung yang memiliki empat lantai dengan luas sekitar 2.500m persegi ini, dirancang oleh arsitek asal kota kembang Bandung, Ridwan Kamil. 

Foto: vimeo.com

Jalur masuk ke dalam gedung dirancang berbentuk gorong-gorong yang gelap, dengan air yang mengalir di kedua sisi dinding. Hal ini bertujuan untuk mengenang kejadian tsunami 2004 silam.

Suasana gorong-gorong masuk museum
(medandailybisnis.com)

Di dalam museum, terdapat koleksi foto korban tsunami, suasana kota pasca musibah, serta simulasi gempa dan tsunami. Di sini jga terdapat sebuah ruangan yang mencantumkan daftar korban pada tragedi 2004 silam ini. 

Memorial hall


So, gak da salahnya mngunjungi tempat yang satu ini. Selain berguna untuk menambah wawasan tentang sejarah musibah di masa lalu, juga bisa dijadikan sebagai bahan renungan agar senantiasa merasa hamba di hadapan Dzat Yang Maha Kuasa.